Friday, February 3, 2012

Sentuhan Musik Melalui Hati ~ Intervew with Teguh Sukaryo on Radio Nederland Wereldomroep




Oleh:   Yanti Mualim , 25 November 2010

"Musik berpangkal di hati," demikian Teguh Sukaryo, pada Radio Nederland usai konsernya di Belanda Utara. Pianis 35 tahun kelahiran Purwokerto ini sejak 2005 secara teratur mengadakan konser di Belanda. Cukup mencengangkan Belanda Utara bisa mengenal pianis asal Indonesia.
Semua berawal dari perkenalan dua pencinta musik dari Belanda, Anna Buijsman dan Heleen Landolt. Ketika berada di Bali, mereka menyaksikan permainan piano Teguh Sukaryo, dan merasa tertarik pada permainannya.  Mereka pulalah yang mengundang pemusik muda ini tampil di Belanda. Teguh Sukaryo yang telah mengecap pendidikan musik di Australia dan Amerika Serikat, sangat mensyukuri minat dari negeri kincir angin ini.
Apresiasi publikSuhu udara di luar dingin, angin bertiup kencang dan pohon-pohon tak berdaun.  Namun di dalam sebuah gereja kecil bernama Het Groene Kerkje - artinya Gereja Hijau - di desa kecil di Belanda Utara, suasana hangat. Di sanalah publik Belanda bisa menikmati permainan piano Teguh Sukaryo.  Pada konser musim gugur 2010 ini Teguh Karya menghadirkan karya-karya komponis Frederico Mompou, Robert Schumann, Claude Debussy dan Joaquin Turina.
Ketika ditanya apakah apresiasi publik Belanda berbeda dari apresiasi publik di Indonesia, Teguh menjawab:"Sebenarnya musik datang dari hati, yang paaaling dalam. Musik adalah bahasa universal. Untuk audience di mana pun membuka hati, itu kunci utama." 
Usia Mematangkan PemusikApakah permainannya sekarang lebih bagus dari beberapa tahun lalu? "Biarkan orang lain yang menilai," demikian Teguh Sukaryo. Ia sendiri yakin kian bertambah umur, kita kian bertambah kaya. Dengan demikian kian kaya pula cetusan emosinya. Namun bagi dirinya harus ada klik antara dirinya dengan musik itu sendiri.
Bagaimana menghadirkan musik yang baik? "Jujurlah terhadap dirimu sendiri," itulah saran Teguh Sukaryo."Pemusik adalah bagaikan kabel penyambung listrik. Dia mengantarkan apa yang ingin disampaikan oleh komponisnya."

Ingin Dengar? Klik disini <<

Tuesday, January 31, 2012

INSPIRATIONAL WORDS

Pernahkah kita mencoba bermusik namun seolah berasa seperti agak hampa dan cenderung kurang bermakna? Ya, mungkin kita sudah memain semua not yang tertulis di printed page, juga bermain in tempo, bahkan sudah mencoba mengobservasi tanda-tanda dinamika dan phrasingnya dengan baik. Namun terasa masih saja ada yang kurang. Kurang menggigit? Kurang berkomunikasi? Kurang hidup?

Memang, secara intuitif kita semua menyadari bahwa ada perbedaan antara bermain ok dan mendapat nilai akurasi tinggi pada ujian maupun kompetisi, dengan bermain sedemikian rupa sehingga memorable, menyentuh hati dan bahkan seolah berkekuatan sihir. Dalam hal yang kemudian, ada kekuatan persuasiveness yang berkomunikasi langsung di bagian hati kita yang paling dalam. Ketika itu terjadi kita benar-benar sadar tanpa ragu bahwa kita telah tersentuh dengan permainan musik yang kita dengar.

Benar, dalam bermusik kita memerlukan tanduk yang lebih tajam dari sekedar akurasi dan teknik yang handal untuk dapat menusuk hati para pendengar. Tanduk tersebut adalah hati yang sincere, yakni yang berfungsi sebagai bond/emotional connectiveness antara pemusik dan pendengar.

Teguh Sukaryo,